Olahraga di Sekolah

September 23, 2008

Banyak pandangan orang bahwa olahraga di sekolah adalah pelajaran yang paling disukai siswa karena dianggap tidak menggunakan otak, tetapi hanya memerlukan tenaga/power. Hal ini berkembang dan meluas sehingga terkadang pelajaran olahraga ini dianggap sebagai pelajaran hiburan/selingan setelah siswa memeras otak pada pelajaran yang dianggap istimewa (mapel UNAS). Pada diri guru olahraga sendiri juga masih ada yang beranggapan bahwa untuk mengikuti kegiatan ini tidak memerlukan kecerdasan, bahkan ada juga sementara orang menganggap bahwa “siswa yang bodoh biasanya pandai dalam olahraga” dan siswa yang “pintar/cerdas” biasanya tidak pandai dalam olahraga. Ini adalah pernyataan yang tidak beralasan dan pernyataan bodoh.

Olahraga di sekolah adalah bagian dari pendidikan secara umum, olahraga sendiri sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan pada umumnya, kita kenal kegiatan di sekolah disebut sebagai Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (Penjasorkes), jadi tidak semata untuk mencapai prestasi olahraga anak didik saja, tetapi sebagai alat pendidikan dan mencapai derajat kesehatan bagi anak didik, karena kita tahu bahwa yang tidak akan tercapai kecerdasan seseorang jika orang tersebut tidak sehat, jadi untuk menuju pada anak cerdas sudah barang tentu anak tersebut harus dalam keadaan sehat (sehat dalam arti yang sebenarnya) yaitu sehat jasmani, rokhani, dan sosial jadi tidak hanya terbebas dari penyakit atau cacat fisik saja. Bisa saja kita melihat seseorang yang bertubuh kekar dan fisiknya kuat, kemudian mampu melaksanakan aktifitas tanpa mengalami kelelahan yang berarti, tetapi orang tersebut bisa saja tidak sehat dibidang rokhani dan sosialnya. Dalam olahraga kita mengenal berbagai istilah seperti fair play dan sportif, inilah salah satu unsur dari sehat rokhani dan sosial, mau mengakui keunggulan lawan, mengakui kekalahan itu karena memang lawan kita lebih baik, mampu bekerjasama dengan teman satu tim dsb.

Prestasi olahraga tidak dapat dicapai dari “kebetulan, bawaan/bakat”. Prestasi bisa dicapai secara optimal harus melalui latihan terusmenerus yang tersusun dengan manajemen yang baik, tanpa hal itu mustahil seseorang dapat mencapai prestasi yang baik. Bakat tanpa dikembangkan dengan benar juga tidak mungkin akan berhasil, sedangkan bakat sendiri tidak akan muncul dengan sendirinya, tetapi harus digali dan dipelajari.

Sebagai gambaran di sekitar kita banyak tukang becak yang memiliki kekuatan kaki mengayuh becak lengkap dengan isinya, tetapi abang becak ini belum tentu akan berprestasi di balap sepeda, sebab pembalap sepeda tidak hanya membutuhkan orang yang memiliki kekuatan kaki dan daya tahan jantung saja untuk mengayuh sepedanya, pembalap sepeda harus memiliki berbagai unsur fisik yang prima seperti kecepatan (speed), keseimbangan (balance), kekuatan (strength), daya ledak (explosive power), daya tahan (endurance), kelentukan (flexibility), dll. Demikian pula kita memilih kuli panggul di pasar yang terbiasa mengangkat beban berat untuk dipilih menjadi atlet angkat besi, dsb.

Dengan demikian seorang pelatih, guru, dan atlet harus cerdas bagaimana memilih atlet, bagaimana merencanakan latihan, dan bagaimanakah pengelolaan selanjutnya. Seorang pemain sepakbola dalam waktu sepersekian detik harus mengamati dimana teman dimana lawan dan secepat mungkin memutuskan untuk diberikan kepada siapa bola  itu akan dioperkan, hal ini akan dapat diatasi dengan baik apabila pemain tersebut cerdas.

Kesimpulan dari tulisan ini adalah seorang atlet harus memiliki kemampuan fisik dan kecerdasan yang prima dan dilatih pula oleh pelatih yang cerdas dan inovatif dalam penggunaan metode latihan.

Entry Filed under: Uncategorized. .


Arsip

Tulisan Teratas

Gambare Inyong cs

Syakila Fil Mizan

Aflakha Daliela Khusna

Imam SteiyurH

Ibnu Fattah Tabbarah

Fauzan Fajri Nasrullah

Faizal Fatron Nazer

Uong

More Photos

Jumlah Pengunjung

Santai tapi serious